Sejarah Kerajaan Demak
Raja pertama yang memimpin Demak adalah Raden Patah. Pengukuhan Raden Patah menjadi Raja Demak dipimpin oleh Sunan Ampel dan didukung oleh sunan lainnnya yang terkenal dengan Walisongo.
Raden Patah memerintah selama 18 tahun (1500-1518 M). Perkembangan agama Islam maju pesat pada saat Raden Patah memerintah Demak. Penyebabnya adalah adanya kegiatan dakwah yang gencar dilakukan oleh para wali serta adanya bantuan oleh para wali serta adanya bantuan ulama-ulama dari daerah pesisir misalnya dari Cirebon dan Tuban.
Setelah Raden Patah meninggal, pemerintah Demak kemudian dipegang oleh putranya yang bernama Pati Unus. Pengganti Raden Patah ini tidak lama memerintah, kurang dari 4 tahun. Pati Unus meninggal dunia pada tahun 1522 M. Selanjutnya kerajaan Demak dipimpin oleh sultan Trenggono. Ia dilantik oleh Gunung Jati dan diberi Gelar Sultan Ahmad Arifin. Agama Islam lebih pesat lagi ketika ia memerintah Demak. Sultan Trenggono merupakan Raja Demak terbesar. Pada saat ia memerintah Demak mencapai puncak kemasyhuran dan kejayaan. Ketika ia mengirim Fatahillah ke Banten.
Pada tahun 1546 M, Sultan Trenggono meninggal dunia ketika ia hendak menaklukan Pasuruhan. Dengan meninggalnya Sultan Trenggono, kerajaan Demak mulai memasuki masa kemunduran. Ketika itu terjadi perebutan kekuasaan antara Sunan Prawoto dan Arya Penangsang. Arya penangsang yang menjabat Bupati Jipang (sekarang Bojonegoro), merasa bahwa tahta Kerajaan Demak adalah haknya. Dalam pertikaian itu Arya Penangsang berhasil membunuh Sunan Prawoto.
Keinginan Arya Penangsang untuk merebut tahta kerajaan demak dihalangi oleh menantu Sultan Trenggono yang bernama Jaka Tingkir. Akhirnya Arya Penangsang dapat dibunuh, yaitu oleh adik kandung Sunan Prawoto yang bernama Pangeran Hadiri untuk membalas kematian kakaknya. Dengan kematian Arya Penangsang itu Joko Tingkir menduduki tahta kerajaan Demak bergelar Sultan Hadiwijaya. Setelah Joko Tingkir menjadi Raja Demak, Pusat pemerintahan Demak kemudian ia pindah ke pajang.
Daerah kekuasaan kerajaan Demak di bawah pimpinan Sultan Hadiwijaya semakin luas merambah daerah pedalaman ke arah timur masuk di daerah Madiun, kemudian di aliran anak sungai terbesar yaitu sungai Bengawan Solo, Sampai di daerah Blora dan Kediri.
Sultan Hadiwijaya meninggal dunia pada tahun 1587 M dan dimakamkan di suatu daerah barat Kerajaan Pajang. Pengganti Sultan Hadiwijaya yaitu putra dari Sunan Prawoto yang bernama Aria Pinggi, justru bukan putranya sendiri yang bernama Pangeran Benawa. Maka wajar bila mengganggap keputusan tersebut tidak adil. Untuk merebut kembali tahta kerajaan Demak, ia minta bantuan kepada putra Ki Ageng Mataram yang bernama Sutawijaya. Ki Ageng Mataram adalah orang yang membantu Sultan Hadiwijaya mengalahkan Aria Penangsang untuk merebut kerajaan Demak. Berkat bantuan Sutawijaya, akhinya Pangeran Benawa berhasil merebut kekuasaan pada tahun (1588).

Posting Komentar untuk "Sejarah Kerajaan Demak"